Our social:

Latest Post

Kamis, 14 April 2016

Terkena Asap Pembakaran Benda Najis

  • Terkait masalah asap yang dihasilkan dari pembakaran benda najis atau asap benda yang terkena najis, dalam madzhab kami terdapat dua pandangan; Pertama, dihukumi najis karena ia merupakan bagian dari benda najis yang dibakar. Kedua, tidak dihukumi najis karena ia hanyalah sebuah uap benda najis, maka asap tersebut tak ubahnya bak sebuah uap yang keluar dari rongga dalam tubuh manusia, seperti halnya kentut. Dan adapun pendapat yang dianggap lebih shahih dikalangan Syafi'iyyah adalah pendapat yang pertama.
  • Berangkat dari pendapat yang pertama, apabila asap tersebut mengenai baju dan ia sedikit menurut perhitungan manusia pada umumnya maka demikian di-ma'fu (diampuni) meskipun asap tersebut dihasilkan dari pembakaran kotoran anjing, berbeda halnya jika asapnya terbilang banyak maka baju tersebut dihukumi mutanajjis (terkena najis).
  • Adapun menurut Imam al-Ramliy, bahwa ke-ma'fu-an tersebut bilamana asap itu dari pembakaran benda najis selain najis mughallazdah (yang diberatkan hukumnya) seperti kotoran anjing dan babi, dan bajunya tidak basah. Dengan demikian, apabila asap tersebut dihasilkan dari pembakaran kotoran anjing maka baju tersebut dihukumi mutanajjis, baik baju itu kering ataupun basah, baik asap itu sedikit ataupun banyak. Atau dari selain pembakaran kotoran anjing; bila baju tersebut basah maka tidak di-ma'fu (baju tersebut dihukumi mutanajjis) meskipun asap tersebut sedikit.
Wallahu A'lam Bisshawab........

REFERENSI :
1.      al-Majmu' Syarh al-Muhaddzab, juz 2, hal. 533 | Marji'ul Akbar (oleh Ustadz Mazz Rofii)
2.      Fath al-Wahhab Bi-Syarh Manhaj al-Thullab, juz 1, hal. 24 | Marji'ul Akbar (oleh Ustadz Mazz Rofii)
3.      Tuhfah al-Habib 'Ala Syarh al-Khathib, juz 1, hal. 768 | Marji'ul Akbar (oleh Ustadz Brojol Gemblung)

المجموع شرح المهذب ج 2 ص 533 | المرجع الأكبر
قال المصنف رحمه الله تعالى: وأما دخان النجاسة إذا أحرقت ففيه وجهان أحدهما: أنه نجس لأنها أجزاء متحللة من النجاسة فهو كالرماد، والثاني: ليس بنجس لأنه بخار نجاسة فهو كالبخار الذي يخرج من الجوف. إهـ 
الشرح: الوجهان في نجاسة دخان النجاسة مشهوران، ودليلهما مذكور في الكتاب أصحهما: عند الأصحاب النجاسة وجمع الدخان دواخن، ويقال في الدخان دخن أيضاً بالفتح وبضم الدال وتشديد الخاء حكاهما الجوهري والبخار بضم الباء وهو هذا المرتفع كالدخان، وسواء دخان الأعيان النجسة كالسرجين ودخان الزيت المتنجس، ففي الجميع الوجهان ذكره البغوي. إهـ 
فرع: قال صاحب «الحاوي» : إذا قلنا دخان النجاسة نجس فهل يعفى عنه؟ فيه وجهان؛ فإن قلنا: لا يعفى فحصل في التنور فإن مسحه بخرقة يابسة طهر وإن مسحه برطبة لم يطهر إلا بالغسل بالماء، وقال صاحب «البيان» : قال أصحابنا: إذا قلنا بالنجاسة فعلق بالثوب فإن كان قليلاً عفي عنه وإن كان كثيراً لم يطهر إلا بالغسل، وإن سود التنور فألصق عليه الخبز قبل مسحه فظاهر أسفل الرغيف نجس، هكذا ذكره الشيخ أبو حامد. إهـ

فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب ج 1 ص 24 | المرجع الأكبر
(فرع) دخان النجاسة نجس يعفى عن قليله وبخارها، كذلك إن تصاعد بواسطة نار لأنه جزء من النجاسة تفصله النار لقوتها وإلا فطاهر. وعلى هذا يحمل إطلاق من أطلق نجاسته أو طهارته. إهـ

تحفة الحبيب على شرح الخطيب ج 1 ص 768 | المرجع الأكبر
قوله: (وعن قليل دخان نجس) ولو من مغلظ، وقيده م ر بغير المغلظ وبعدم الرطوبة، والأولى قراءته بالتنوين ليشمل دخان المتنجس كحطب تنجس ببول، فإنه نجس يعفى عن قليله كما قاله زي، لأنه إن قرىء بالإضافة لا يشمله، وبه يعلم ما عمت به البلوى في الشتاء، ولو نشف شيئاً رطباً على اللهب المجرد عن الدخان لم يتنجس وهو ظاهر، وخرج بالدخان الهباب فظاهره أنه لا يعفى عنه كما قاله العناني، ومال ع ش إلى طهارة اللهب الحاصل من الشمعة النجسة ولهب الجلة والحطب المتنجس الخالي عن الدخان، ونقل بعضهم عن ابن العماد نجاسته اهــــ برماوي. وكتب أ ج ظاهره ولو كان الدخان بفعله أو من دخان مغلظ، وإطلاق م ر كما هنا يقتضي العفو مطلقاً، لكن قيد ابن حجر المسألة بما إذا لم يكن بفعله أو من دخان مغلظ اهــــ. أي فيعمل بما صرح به ابن حجر لأن التصريح يقدم على الإطلاق. إهـ

MASALATUN

Assalamualaikum ust sy mau tanya,. di belakang rumah ada kandang kambing punya ortu dan tetangga,. setiap hari kotorannya di bakar dan asapnya masuk kedalam rumah,. gmn hukum asapnya tersebut???

JAWABAN :
WA’ALAIKUM SALAM WR. WB.
Hukum asap pembakaran benda najis seperti kotoran adalah NAJIS. Hanya saja, jika mengenai pakaian atau lainnya hukumnya DI MA’FU (DIMAAFKAN) dengan beberapa ketentuan berikut :
1. Dianggap sedikit menurut penilaian umumnya orang (‘urf)
2. Bukan dari najis mugholladhoh
3. Tidak ada bagian pakaian yang basah.
4. Tidak karena kesengajaannya.
إعانة الطالبين)1/ 106(
(قوله: ومن دخان نجاسة) معطوف على قوله من شعر نجس.
أي: ويعفى عن يسير – عرفا – من دخان النجاسة، وهو المتصاعد منها بواسطة نار، ولو من بخور يوضع على نحو سرجين.
ومنه ما جرت به العادة في الحمامات، فهو نجس لانه من أجزاء النجاسة تفصله النار منها لقوتها.
ويعفى عن يسيره بشرط أن لا توجد رطوبة في المحل وأن لا يكون بفعله، وإلا فلا يعفى مطلقا لتنزيلهم الدخان منزلة العين.
وخرج بدخان النجاسة بخارها، وهو المتصاعد منها لا بواسطة نار، فهو طاهر.
ومنه الريح الخارج من الكنف أو من الدبر فهو طاهر، فلو ملا منه قربة حملها على ظهره وصلى بها صحت صلاته.
شرح المقدمة الحضرمية المسمى بشرى الكريم بشرح مسائل التعليم (ص: 79)
(و) منها: (القليل من دخان النجاسة) فيعفى عنه في المائع وغيره، وقيده في “الامداد”: (بأن لا يكون من مغلظ، ولا حصل بفعله).
وفي نجاسة دخان المتنجس خلاف.
وتعرف قلته بالأثر الذي ينشأ عنه في نحو الثوب، ومثله بخار النجاسة إن تصاعد بالنار، وإلا .. فطاهر كبخار الكنيف، والريح من الشخص وإن لاقى رطوبة.
 

SejarahBicara Inilah Fakta Keunggulan Pendidikan Pesantren

  • Tulisan ini patut dibaca oleh segenap bangsa Indonesia, dan umat Islam di antero dunia. Disarikan dari Ceramah KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, dan mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Dipublikasikan di berbagai media online, termasuk arrahmah.co.id. Selamat Menyimak. Dan #AyoMondok
  • Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah). Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro. Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.
  • Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M. Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur. Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.
  • Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro. Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
  • Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib). Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah.
  • Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i. Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan). Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka tiga tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.
  • Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi. Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita. Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita. Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.
  • Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya: “Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.” Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren. Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku." Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.
  • Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri. Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa. Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan. Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat. Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.
  • Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai. Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh. Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim. Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis. Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur. Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur. Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:
  • Dari yakinku teguh Hati ikhlasku penuh Akan karuniaMu Tanah air pusaka Indonesia merdeka Syukur aku sembahkan Ke hadiratMu Tuhan.
  • (Syair) Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga. Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik. Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.
  • Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua. Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur. Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang. Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:
  • 17 Agustus tahun 45 Itulah hari kemerdekaan kita Hari merdeka Nusa dan Bangsa Hari lahirndya Bangsa Indonesia Merdeka Sekali merdeka tertap merdeka Selama hayat masih dikandung badan Kita tetap setia, tetap setia Mempertahankan Indonesia Kita tetap setia, tetap setia Membela Negara kita.
  • Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa. Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren. Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai. Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat.
  • Siapa beliau? H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah. Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi. Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah. Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh Allah Swt. Akhirnya, Bung Hatta menjiadi wakil presiden pertama.
  • Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly. Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren. Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini: “Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah." Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah. Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah. Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.
  • Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip. Perlu putra-putri Anda dalam menuntuty ilmu, berpisah dengan orangtua. KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh: “Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.” (Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).
  • Maka masukkanlah ke pesantren, biar cepat dewasa pikirannya. Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Ali (*)